Mengagumkan. Saya kagum dengan konsistensi metodologis Aljabiri. Anda bisa merunutnya dari karya-karynya: Nahnu wa at-Turats, tetralogi kritik nalar arab sampai karya terbarunya tentang al-Qur'an yang sejauh ini sudah tiga jilid yang dilempar ke publik. Sebuah nafas panjang konsistensi metodologis: membuat obyek kajian hidup di masanya sendiri, dan hidup bersama kita yang hidup di masa kini.
Itulah yang dilakukannya sejak Nahnu wa at-Turats. Hidup bersama al-Farabi, Ibnu Sina; Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun di masa mereka dengan problematika kesejarahannya masing-masing, namun menangkap ruhnya yang masih bisa hidup bersama kita untuk menjawab persoalan-persoalan kita hari ini. Itulah yang dilakukannya dengan kritik nalar Arab. Dan yang paling gres, itulah yang dilakukannya dengan serial kaji al-Qur'an dengan merunut mushaf sesuai dengan urutan turunnya.
Kata al-Jabiri, pembacaan yang a-historis adalah pembacaan yang mencabut obyek kajian dari ruang sejarahnya. Pembacaan macam ini tidak memberi manfaat apa-apa. Perubahan yang diusulkannya tidak bergerak dari dalam, tapi dipaksakan dari luar. Perubahan yang benar dan permanen hanya bisa dihasilkan dari dalam, bukan dari luar.
Mencari makna dari tradisi, menurutnya, bukan pada data yang diajukannya, tapi pada pesan dan misi ideologis yang disematkan terhadapnya. Di sinilah letak kegagalan pembacaan terhadap karya-karya para filosof muslim abad tengah, karena data pengetahuannya tidak melompat dari pemikiran para filosof Yunani, namun ketika yang dibaca adalah sematan ideologisnya, persoalannya menjadi lain. Ada gerak intelektual dan peradaban sekaligus di sana.
Selalu asyik membaca karya-karya al-Jabiri.
Wednesday, May 13, 2009
Friday, March 27, 2009
Para Sufi Maroko
At-Tasyawwuf Ila Rijal at-Tashawwuf, buku yang bercerita tentang 277 sufi Maroko. Kitab ini ditulis oleh Abi Ya'qub Yusuf Bin Yahya at-Tadili yang terkenal dengan sebutan Ibnu Az-Zayyat; ditahqiq oleh Ustadz Ahmad Taufiq, Menteri Wakaf Maroko yang sekarang masih menjabat.
Di bagian awal, buku ini berbicara tentang wali, ciri-cirinya, kekeramatan, semuanya disertai hadits-hadits yang banyak diriwayatkan oleh al-Bukhari.
Sebagaimana semacam semboyan yang terkenal, "Timur adalah negeri para Nabi dan Barat (Maroko) adalah negeri para wali", maka bagi mereka yang ingin mengenal lebih dekat para wali di Maroko abad 5-7 H, buku ini menjadi bacaan wajib.
Di bagian awal, buku ini berbicara tentang wali, ciri-cirinya, kekeramatan, semuanya disertai hadits-hadits yang banyak diriwayatkan oleh al-Bukhari.
Sebagaimana semacam semboyan yang terkenal, "Timur adalah negeri para Nabi dan Barat (Maroko) adalah negeri para wali", maka bagi mereka yang ingin mengenal lebih dekat para wali di Maroko abad 5-7 H, buku ini menjadi bacaan wajib.
Thursday, March 26, 2009
Malik Bin Nabi-1
SEKILAS PEMIKIRAN MALIK BIN NABI
Saya lebih dulu tahu Malik Bin Nabi dari murid-murid (langsung atau tidak) beliau yang sekarang masih gilang-gemilang di dunia intelektual Arab Islam. Beliau tidak hanya menjadi kebanggaan Aljazair, tanah kelahirannya, tapi dunia Arab Islam secara umum.
Abdusshabur Syahin, Ahli Bahasa dan intelektual terkemuka Mesir, yang menterjemahkan buku beliau dari Bahasa Perancis ke Arab terkesima dengan arsitektur pemikiran Malik Bin Nabi. Ini pasti pengaruh langsung kesarjanaan Bin Nabi di bidang teknik.
Imaduddin Khalil, pemikir peradaban terkemuka Irak, lama mengajar di Yordania, banyak mengutip Malik Bin Nabi. Karya-karya Malik Bin Nabi bisa menjadi pijakan bagaimana dunia Islam mesti bangun kembali ke gelanggang peradaban dengan basis nilai internalnya.
Khali Jalabi, penulis favorit saya, yang seorang dokter ahli bedah tetapi hafal al Qur'an dan fasih berbicara warisan peradaban Islam dan Barat sekaligus, menyebut karya-karya Malik Bin Nabi sebagai bacaan yang harus dibaca oleh umat Islam berulang-ulang untuk merasukkan semangat kebangkitan kembali dunia Islam. "Lebih baik membaca sedikit buku bagus berkali-kali daripada mebaca banyak buku dengan kualitas rendah", kata beliau.
Buku "Syuruth an Nahdlah" (syarat kebangkitan) karya Malik Bin Nabi adalah satu dari sedikit buku bagus tersebut. Poin paling mendasar dari syarat kebangkitan dunia Islam menurut Malik Bin Nabi adalah keharusan awal umat untuk melepaskan diri dari mental yang siap untuk dijajah. Selama mental umat Islam masih mental pecundang, maka apapun upaya kebangkitan, tidak akan berhasil dengan sebenar-benarnya.
Jaudat Said, guru dan sekaligus kakak ipar Khalis Jalabi, adalah juga yang kagum dan terpengaruh dengan karya-karya Malik Bin Nabi. Salah satu hasilnya adalah keyakinan penuh terhadap jihad tanpa kekerasan. Lewat karya-karya genuin-nya, Jaudat Said yang sering disebut sebagai "Gandi"-nya Arab ini menolak cara-cara kekerasan yang masih dipakai oleh kekuatan pergerakan umat Islam sampai hari ini bahkan untuk tujuan yang diklaim sebagai gerakan pembabasan sekali pun. Kekerasan hanya tetap akan menjadi lingkaran setan yang tiada putus-putusnya.
Untuk kebangkitan umat Islam sekali lagi, karya-karya Malik Bin Nabi menjadi bacaan wajib.
Saya lebih dulu tahu Malik Bin Nabi dari murid-murid (langsung atau tidak) beliau yang sekarang masih gilang-gemilang di dunia intelektual Arab Islam. Beliau tidak hanya menjadi kebanggaan Aljazair, tanah kelahirannya, tapi dunia Arab Islam secara umum.
Abdusshabur Syahin, Ahli Bahasa dan intelektual terkemuka Mesir, yang menterjemahkan buku beliau dari Bahasa Perancis ke Arab terkesima dengan arsitektur pemikiran Malik Bin Nabi. Ini pasti pengaruh langsung kesarjanaan Bin Nabi di bidang teknik.
Imaduddin Khalil, pemikir peradaban terkemuka Irak, lama mengajar di Yordania, banyak mengutip Malik Bin Nabi. Karya-karya Malik Bin Nabi bisa menjadi pijakan bagaimana dunia Islam mesti bangun kembali ke gelanggang peradaban dengan basis nilai internalnya.
Khali Jalabi, penulis favorit saya, yang seorang dokter ahli bedah tetapi hafal al Qur'an dan fasih berbicara warisan peradaban Islam dan Barat sekaligus, menyebut karya-karya Malik Bin Nabi sebagai bacaan yang harus dibaca oleh umat Islam berulang-ulang untuk merasukkan semangat kebangkitan kembali dunia Islam. "Lebih baik membaca sedikit buku bagus berkali-kali daripada mebaca banyak buku dengan kualitas rendah", kata beliau.
Buku "Syuruth an Nahdlah" (syarat kebangkitan) karya Malik Bin Nabi adalah satu dari sedikit buku bagus tersebut. Poin paling mendasar dari syarat kebangkitan dunia Islam menurut Malik Bin Nabi adalah keharusan awal umat untuk melepaskan diri dari mental yang siap untuk dijajah. Selama mental umat Islam masih mental pecundang, maka apapun upaya kebangkitan, tidak akan berhasil dengan sebenar-benarnya.
Jaudat Said, guru dan sekaligus kakak ipar Khalis Jalabi, adalah juga yang kagum dan terpengaruh dengan karya-karya Malik Bin Nabi. Salah satu hasilnya adalah keyakinan penuh terhadap jihad tanpa kekerasan. Lewat karya-karya genuin-nya, Jaudat Said yang sering disebut sebagai "Gandi"-nya Arab ini menolak cara-cara kekerasan yang masih dipakai oleh kekuatan pergerakan umat Islam sampai hari ini bahkan untuk tujuan yang diklaim sebagai gerakan pembabasan sekali pun. Kekerasan hanya tetap akan menjadi lingkaran setan yang tiada putus-putusnya.
Untuk kebangkitan umat Islam sekali lagi, karya-karya Malik Bin Nabi menjadi bacaan wajib.
Muhammad Abid al-Jabiri-1
KARYA-KARYA AL JABIRI
Ketika menyebut pemikiran islam kontemporer di Maroko, Al Jabiri selalu berada di urutan terdepan. Latar belakang akademisnya di filsafat memungkinkannya untuk menawarkan cara baru membaca warisan pemikiran Islam. Sejak awal 70-an, karya-karyanya tidak berhenti mengalir hingga hari ini.
Nahnu wa at-Turast (kita dan tradisi) adalah karya serius pertama di luar capaian akademis (tesis, disertasi) yang melambungkan namanya. Era 80-an sampai memasuki abad 21, tetralogi kritik nalar arab-nya mendapat apresiasi intelektual dimana-mana.
Ketika empat buku ini selesai ditulispun, al-Jabiri tertanya masih memiliki proyek besar baru: kali ini di wilayah al-Qur'an. Tiga buku terbarunya tentang al-Qur'an, merunut penjelasan tentang al-Qur'an sesuai urutan turun, sudah dilepas di pasaran.
Serial buku saku bulanan mawaqif juga masih terus mengalir terbit. Isinya adalah respon al-Jabiri terhadap realitas yang mengitari kita. Majalah fikr wa naqd juga masih diasuhnya.
Tak pelak, jika ingin mengetahui bagaimana nalar arab islam bekerja, karya-karya al Jabiri menjadi bacaan wajib.
Ketika menyebut pemikiran islam kontemporer di Maroko, Al Jabiri selalu berada di urutan terdepan. Latar belakang akademisnya di filsafat memungkinkannya untuk menawarkan cara baru membaca warisan pemikiran Islam. Sejak awal 70-an, karya-karyanya tidak berhenti mengalir hingga hari ini.
Nahnu wa at-Turast (kita dan tradisi) adalah karya serius pertama di luar capaian akademis (tesis, disertasi) yang melambungkan namanya. Era 80-an sampai memasuki abad 21, tetralogi kritik nalar arab-nya mendapat apresiasi intelektual dimana-mana.
Ketika empat buku ini selesai ditulispun, al-Jabiri tertanya masih memiliki proyek besar baru: kali ini di wilayah al-Qur'an. Tiga buku terbarunya tentang al-Qur'an, merunut penjelasan tentang al-Qur'an sesuai urutan turun, sudah dilepas di pasaran.
Serial buku saku bulanan mawaqif juga masih terus mengalir terbit. Isinya adalah respon al-Jabiri terhadap realitas yang mengitari kita. Majalah fikr wa naqd juga masih diasuhnya.
Tak pelak, jika ingin mengetahui bagaimana nalar arab islam bekerja, karya-karya al Jabiri menjadi bacaan wajib.
Tuesday, December 16, 2008
Cerita Peradaban di Duha al-Islam
Ahmad Amin, penulis serial fajr-duha-dzuhr al Islam, tak pelak adalah salah seorang penulis peradaban Islam terbaik yang dimiliki dunia Arab Islam di abad ke-20. Detil deskripsinya sunggung mengagumkan. Kita diajak untuk seolah merasakan keagungan peradaban ini sejak lahir sampai masa matangnya.
Salah satu pengantar terbaik memahami masa jaya peradaban Islam di dua pusat-nya: Bagdad dan Andalusia adalah Duha al Islam, buku kedua dari serial karya Ahmad Amin ini.
Di buku ini, kita bisa temukan bagaimana cerita pertemuan tiga peradaban besar: Yunani, India dan Arab yang dibingkai oleh kekuatan spiritual dan intelektual Islam yang kemudian membentuk dua pusat peradaban baru di dua tempat berbeda itu.
Hingga kini, jejak dua pusat peradaban Islam ini membentuk dua corak intelektual Islam yang berbeda, sebagaimana diintrodusir al-Jabiri,: lebih politis-teologis di Timur dan lebih sosiologis-filosofis di Barat.
Salah satu pengantar terbaik memahami masa jaya peradaban Islam di dua pusat-nya: Bagdad dan Andalusia adalah Duha al Islam, buku kedua dari serial karya Ahmad Amin ini.
Di buku ini, kita bisa temukan bagaimana cerita pertemuan tiga peradaban besar: Yunani, India dan Arab yang dibingkai oleh kekuatan spiritual dan intelektual Islam yang kemudian membentuk dua pusat peradaban baru di dua tempat berbeda itu.
Hingga kini, jejak dua pusat peradaban Islam ini membentuk dua corak intelektual Islam yang berbeda, sebagaimana diintrodusir al-Jabiri,: lebih politis-teologis di Timur dan lebih sosiologis-filosofis di Barat.
Monday, May 5, 2008
Masa-masa Awal al-Garb al-Islami
Hisyam Ja'ith menulis buku "Ta'sis al-Garb al-Islami, al-Qarn al-Awwal wa at-Tsani al-Hijri".
Buku ini terdiri dari lima makalah yang ditulisnya secara mendalam ketika awal masa intelektualitasnya. Temanya disatukan oleh "Barat Islam/al-Garb al-Islami".
Dalam penjelasan sekilas buku disebutkan bahwa ada masa sekitar satu abad sejak penaklukan Afrika Utara oleh Musa Bin Nushair sekitar 86 H sampai berdirinya dinasti Agalibah tahun 184 H yang luput dari penelitian mendalam para ahli. Padahal pada masa itu terjadi pembangunan institusi sosial-ekonomi-kebudayaan yang intensif. Buku ini datang untuk mengisi ruang kosong tersebut.
Untuk memahami sejarah awal kawasan Barat Islam ini, merujuk buku ini adalah sebuah keharusan.
Buku ini terdiri dari lima makalah yang ditulisnya secara mendalam ketika awal masa intelektualitasnya. Temanya disatukan oleh "Barat Islam/al-Garb al-Islami".
Dalam penjelasan sekilas buku disebutkan bahwa ada masa sekitar satu abad sejak penaklukan Afrika Utara oleh Musa Bin Nushair sekitar 86 H sampai berdirinya dinasti Agalibah tahun 184 H yang luput dari penelitian mendalam para ahli. Padahal pada masa itu terjadi pembangunan institusi sosial-ekonomi-kebudayaan yang intensif. Buku ini datang untuk mengisi ruang kosong tersebut.
Untuk memahami sejarah awal kawasan Barat Islam ini, merujuk buku ini adalah sebuah keharusan.
Pemikiran Dr. Thaha Abdurrahman-1
Dr. Thaha Abdurrahman, digelari 'al-failasuf al-magribi', disebut-sebut sebagai pemikir paling kreatif di Maroko, bahkan mungkin di dunia Arab-Islam.
Kelebihan beliau adalah kemampuannya untuk membuat konsep-konsep baru terutama di bidang yang menjadi keahliannya: mantiq (logika) dan bahasa.
Dalam buku-nya: al-Lisan wa al-Mizan aw at-Takautsur al-Aqli (terbitan I, 1998) beliau bercerita tentang perjuangannya membangun pengajaran filsafat (khususnya manthiq) di Universitas Mohamad V Rabat, dimulai sejak selepas beliau menuntaskan studi-nya di Perancis, awal 1970-an.
Kendala terberat yang beliau sebut adalah betapa merasuk-kuatnya logika aristotelian (logika formal) di kalangan civitas akademika; pejabat universitas dan kolega sesama dosen. Padahal sejak setengah abad belakangan, menurut beliau, logika ini sudah dipukul balik oleh logika baru (manthiq jadid, logika simbolik-manthiq ramzi). Logika baru ini sudah mengalami perkembangan luar biasa: meluas, membanyak dan mendalam, hubungannya dengan cabang ilmu lain semisal linguistik, matematika dan informasi menjadi semakin kuat.
Dalam bukunya ini, Dr. Thaha membuktikan beberapa pemikirannya yang berbeda dari apa yang ramai diketahui khalayak akademis, antara lain:
1. 'al-Bayan' berarti berlogika, ia bukan terutama menunjuk kata-kata, tetapi nalar di balik kata-kata tersebut, sehingga dengan demikian, al-bayan sama dengan al-burhan. Bahkan, Dr. Thaha berpendapat bahwa al-bayan lebih tinggi dari al-burhan, karena al-bayan lebih khusus dari al-burhan. Sehingga setiap al-bayan, pasti al-burhan, tetapi tidak setiap al-burhan itu al-bayan. Karena tidak semua apa yang ada dalam pikiran disampaikan dengan kata-kata yang bagus dan pas sehingga belum bisa disebut al-bayan, meskipun ia sudah bisa disebut al-burhan.
2. Akal manusia bukanlah benda statis yang dihinggapi sifat berubah-ubah, tetapi akal adalah kerja. Sehingga akal bukan hanya luas, tapi banyak. Sehingga, akal yang berguna adalah akal yang senantiasa bekerja dan menaikkan nilai kemanusiaan. Kesimpulan ini, membuat Dr. Thaha melampuai penghadapan tradisi (turas) vs modernitas (hadatsah) atau keaslian (ashalah) vs kekinian (muasharah).
Kelebihan beliau adalah kemampuannya untuk membuat konsep-konsep baru terutama di bidang yang menjadi keahliannya: mantiq (logika) dan bahasa.
Dalam buku-nya: al-Lisan wa al-Mizan aw at-Takautsur al-Aqli (terbitan I, 1998) beliau bercerita tentang perjuangannya membangun pengajaran filsafat (khususnya manthiq) di Universitas Mohamad V Rabat, dimulai sejak selepas beliau menuntaskan studi-nya di Perancis, awal 1970-an.
Kendala terberat yang beliau sebut adalah betapa merasuk-kuatnya logika aristotelian (logika formal) di kalangan civitas akademika; pejabat universitas dan kolega sesama dosen. Padahal sejak setengah abad belakangan, menurut beliau, logika ini sudah dipukul balik oleh logika baru (manthiq jadid, logika simbolik-manthiq ramzi). Logika baru ini sudah mengalami perkembangan luar biasa: meluas, membanyak dan mendalam, hubungannya dengan cabang ilmu lain semisal linguistik, matematika dan informasi menjadi semakin kuat.
Dalam bukunya ini, Dr. Thaha membuktikan beberapa pemikirannya yang berbeda dari apa yang ramai diketahui khalayak akademis, antara lain:
1. 'al-Bayan' berarti berlogika, ia bukan terutama menunjuk kata-kata, tetapi nalar di balik kata-kata tersebut, sehingga dengan demikian, al-bayan sama dengan al-burhan. Bahkan, Dr. Thaha berpendapat bahwa al-bayan lebih tinggi dari al-burhan, karena al-bayan lebih khusus dari al-burhan. Sehingga setiap al-bayan, pasti al-burhan, tetapi tidak setiap al-burhan itu al-bayan. Karena tidak semua apa yang ada dalam pikiran disampaikan dengan kata-kata yang bagus dan pas sehingga belum bisa disebut al-bayan, meskipun ia sudah bisa disebut al-burhan.
2. Akal manusia bukanlah benda statis yang dihinggapi sifat berubah-ubah, tetapi akal adalah kerja. Sehingga akal bukan hanya luas, tapi banyak. Sehingga, akal yang berguna adalah akal yang senantiasa bekerja dan menaikkan nilai kemanusiaan. Kesimpulan ini, membuat Dr. Thaha melampuai penghadapan tradisi (turas) vs modernitas (hadatsah) atau keaslian (ashalah) vs kekinian (muasharah).
Subscribe to:
Posts (Atom)